Pemkot Surabaya Mobilisasi 12 Ribu ASN dan Pemuda untuk Dampingi 1.361 RW di Kampung Pancasila

Pemerintah Kota Surabaya tengah melaksanakan inisiatif yang signifikan untuk memperkuat nilai-nilai gotong royong dalam masyarakat melalui program Kampung Pancasila. Dalam upaya ini, sekitar 12.000 Aparatur Sipil Negara (ASN) dan pemuda akan dilibatkan untuk mendampingi 1.361 Rukun Warga (RW) di seluruh kota. Langkah ini diambil untuk menumbuhkan solidaritas sosial yang merupakan fondasi penting bagi Kota Pahlawan.

Strategi Pemkot Surabaya dalam Mewujudkan Nilai Pancasila

Pemkot Surabaya memahami bahwa pelibatan ribuan ASN dan pemuda adalah bagian dari strategi untuk memastikan bahwa nilai-nilai Pancasila tidak hanya menjadi wacana, tetapi juga diimplementasikan secara nyata di masyarakat. Namun, pihak pemkot juga menyadari bahwa keberhasilan program ini sangat bergantung pada dukungan aktif dari masyarakat dan elemen sosial lainnya.

Pernyataan Wali Kota tentang Kampung Pancasila

Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, menegaskan komitmennya saat meluncurkan Kampung Pancasila 2026 di RW 2 Krembangan Bhakti, Kelurahan Kemayoran, Kecamatan Krembangan, pada 16 April 2026. Acara tersebut dihadiri oleh berbagai tokoh lintas agama, organisasi masyarakat, organisasi kepemudaan, dan mahasiswa, serta diikuti oleh perwakilan dari 1.361 RW secara daring.

Membangun Budaya Gotong Royong Sejak Dulu

Dalam sambutannya, Wali Kota Eri menyatakan bahwa kekuatan Surabaya terletak pada budaya gotong royong yang telah terjalin sejak lama. Ia mengingatkan bahwa sejak tahun 1960-an, Surabaya telah dibangun atas dasar nilai kekeluargaan dan toleransi yang tinggi.

“Sejak tahun 1960, Surabaya dikenal dengan toleransi yang tinggi. Ini adalah nilai yang harus kita pegang dan terus lanjutkan. Oleh karena itu, Kampung Pancasila ini tidak boleh sekadar menjadi slogan, tetapi harus terwujud dalam praktik sehari-hari melalui gotong royong,” tegasnya.

Pentingnya Peran Pemuda dalam Pembangunan

Wali Kota Eri juga menekankan bahwa pembangunan Surabaya tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah. Ia menyatakan, pergerakan anak muda sangat diperlukan untuk mencapai kesejahteraan kota.

“Jika kita menginginkan Surabaya sejahtera tanpa melibatkan anak muda, itu sesuatu yang tidak mungkin. Pemerintah daerah tidak dapat menyelesaikan semua permasalahan tanpa dukungan masyarakat, terutama generasi muda,” ujarnya.

Implementasi Konsep Kesejahteraan Kolektif

Wali Kota Eri mengilustrasikan pentingnya konsep kesejahteraan kolektif dengan mengacu pada praktik distribusi zakat, infaq, dan sedekah (ZIS) pada masa kepemimpinan Sayyidina Utsman bin Affan. Ia berpendapat bahwa praktik baik ini masih relevan dan dapat diterapkan di era modern ini.

“Di zaman Sayyidina Utsman, negeri ini makmur karena rakyatnya yang mampu membayar zakat dan memberikan infaq, mengumpulkan dana tersebut dan menyalurkannya kepada yang membutuhkan di kampung mereka,” jelasnya.

Penguatan di Berbagai Bidang

Melalui program Kampung Pancasila, Pemkot Surabaya berupaya memperkuat berbagai bidang, seperti lingkungan, sosial budaya, kemasyarakatan, dan ekonomi. Di sektor lingkungan, Wali Kota Eri mengajak masyarakat untuk mulai memilah sampah di rumah, yang memiliki nilai ekonomi yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan sosial.

Dalam bidang sosial budaya, program ini juga diarahkan untuk memperkuat solidaritas antarwarga, terutama dalam membantu masyarakat yang kurang mampu melalui mekanisme gotong royong. Wali Kota Eri menekankan pentingnya penyaluran bantuan yang tepat sasaran, dengan mengutamakan kebutuhan warga di RW setempat.

Kebutuhan Warga yang Harus Dipenuhi

“Sering kali, kita tidak ingin menyalurkan sedekah kita ke RW, tetapi malah melalui lembaga lain. Akibatnya, lembaga tersebut tidak mengeluarkan infaq yang kita berikan ke RW kita, tetapi ke tempat lain. Padahal, di RW kita masih ada yang tidak bisa sekolah atau hidup dalam kemiskinan,” tuturnya.

Wali Kota Eri menegaskan bahwa setiap persoalan seharusnya dapat diselesaikan di tingkat RW dengan dukungan dari pemerintah. Namun, hal ini memerlukan laporan aktif dari masyarakat, termasuk dari Kader Surabaya Hebat (KSH), PKK, dan pengurus RT/RW.

Peran Aktif Masyarakat dalam Penyelesaian Masalah

“Jika ada masalah fasilitas umum atau anak yang tidak bisa sekolah, seharusnya bisa diselesaikan di RW dengan bantuan pemerintah kota. Namun, pemerintah kota tidak bisa menyelesaikan semuanya tanpa adanya laporan dan pergerakan dari RW. Oleh karena itu, saya berharap setiap RW akan didampingi oleh ASN,” imbuhnya.

Ajakan untuk Semua Elemen Masyarakat

Wali Kota Eri juga mengajak semua elemen masyarakat, termasuk mahasiswa, organisasi kepemudaan, dan kelompok keagamaan, untuk terlibat aktif dalam pendampingan program Kampung Pancasila. Ia menegaskan bahwa keberhasilan Surabaya dalam mengatasi berbagai persoalan tidak hanya ditentukan oleh pemerintah, tetapi juga oleh gotong royong warga.

“Kita akan bergerak bersama untuk menjadikan Surabaya sejahtera. Ini bukan hanya karena wali kotanya, tetapi juga berkat kerjasama RT/RW, PKK, KSH, dan tokoh masyarakat,” tegasnya.

Pemberdayaan Masyarakat di Tingkat RW

Kepala Satuan Tugas Kampung Pancasila Kota Surabaya, Irvan Widyanto, menambahkan bahwa program ini bertujuan untuk memperkuat pemberdayaan masyarakat di tingkat RW dengan menitikberatkan pada nilai gotong royong. “Program Kampung Pancasila ini bertujuan untuk memberdayakan seluruh unsur masyarakat di level RW untuk berkolaborasi,” ungkap Irvan.

Pengalaman Masa Pandemi sebagai Pelajaran Berharga

Irvan juga menjelaskan bahwa gagasan Kampung Pancasila terinspirasi dari pengalaman Surabaya selama menghadapi pandemi Covid-19. Saat itu, nilai-nilai gotong royong tumbuh secara spontan di kalangan masyarakat tanpa perlu menunggu intervensi pemerintah.

“Di semua kampung, terjadi gotong royong tanpa diperintah. Ini adalah spontanitas warga untuk mengatasi masalah di kampung mereka sendiri,” ungkap Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Surabaya ini.

Filosofi Kampung Pancasila

Pengalaman tersebut kemudian dirumuskan oleh Wali Kota Eri Cahyadi menjadi filosofi Kampung Pancasila, yang bertujuan untuk memperkuat solidaritas sosial di tingkat RW guna membantu warga yang membutuhkan. Program ini menyasar berbagai isu, mulai dari pencegahan stunting dan gizi buruk, akses pendidikan untuk anak, hingga pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Peran ASN dalam Program Kampung Pancasila

Untuk memperkuat pelaksanaan Kampung Pancasila, Pemkot Surabaya telah menugaskan sekitar 12.000 ASN sebagai pendamping. ASN dan pemuda di wilayah setempat akan mendampingi 1.361 RW agar program ini dapat berjalan efektif dan memenuhi kebutuhan warga secara langsung.

“Sekitar 12.000 ASN yang ada di pemerintah kota akan langsung berperan sebagai pendamping. Total 1.361 RW akan didampingi oleh ASN untuk bekerja sama dengan masyarakat,” jelas Irvan.

Pilar Utama Program Kampung Pancasila

Dalam pelaksanaannya, Kampung Pancasila dibagi menjadi empat pilar utama: lingkungan, kemasyarakatan, ekonomi, dan sosial budaya. Irvan menekankan bahwa kunci keberhasilan program terletak pada keterlibatan seluruh elemen masyarakat.

“Kami berharap semua elemen terlibat tanpa memandang suku atau agama. Ini adalah langkah bersama untuk menciptakan lingkungan yang lebih baik,” tutupnya.

Exit mobile version