PWI Ambil Tindakan Hukum Terkait Dugaan Kekerasan Wartawan di Pertandingan Sepak Bola

Di tengah maraknya isu kekerasan terhadap jurnalis, insiden yang melibatkan wartawan Haiqal Alfikri di sebuah pertandingan sepak bola di Aceh Utara menjadi sorotan utama. Ketua PWI Lhokseumawe, Sayuti Achmad, menegaskan bahwa dugaan kekerasan yang dialami Haiqal tidak dapat dianggap sepele. Kejadian ini menimbulkan banyak pertanyaan mengenai peran dan tindakan anggota TNI yang terlibat, serta bagaimana upaya pengamanan seharusnya dilakukan dalam konteks acara publik.

Pernyataan PWI dan Dugaan Penyimpangan Narasi

Sayuti Achmad mengecam keras keterangan yang dikeluarkan oleh Muspika Tanah Luas melalui Danramil 10, yang dianggap dapat memutarbalikkan fakta. Ia berpendapat bahwa narasi yang disampaikan tidak sesuai dengan keadaan di lapangan dan berpotensi menyesatkan publik, dengan tujuan membela oknum TNI yang terlibat. Sayuti mencurigai bahwa ada keterlibatan Dandim dalam pembentukan narasi tersebut.

“Kami telah melakukan investigasi mendalam. Fakta yang kami kumpulkan di lapangan tidak sesuai dengan yang dipaparkan oleh Danramil. Jangan gunakan cara-cara lama yang hanya berfungsi untuk membangun opini tandingan saat menghadapi dugaan kekerasan terhadap wartawan,” ujarnya tegas pada Jumat (28/08).

Pentingnya Transparansi dalam Penanganan Insiden

Sayuti menekankan bahwa masyarakat saat ini semakin cerdas dan tidak mudah terpengaruh oleh narasi sepihak. Banyak yang menyaksikan langsung bagaimana Haiqal menghadapi kekerasan di tengah kericuhan. Ia juga mempertanyakan keberadaan anggota Koramil dalam pertandingan tersebut, yang diduga bukan semata-mata untuk pengamanan tetapi terkait dengan honorarium dari panitia.

“Jika tujuan mereka hanya untuk mengamankan, perlu dijelaskan secara terbuka apa kepentingan militer dalam konteks pertandingan sepak bola ini agar tidak menimbulkan tafsir yang keliru di masyarakat,” tambah Sayuti.

Investasi dan Pengumpulan Fakta oleh PWI

PWI Lhokseumawe telah membentuk tim investigasi untuk menelusuri informasi di lapangan, terutama yang berkaitan dengan sentimen negatif terhadap Haiqal yang mungkin berakar dari pemberitaannya selama ini.

Di sisi lain, Haiqal Alfikri sendiri menjelaskan situasinya sebelum kericuhan terjadi. Ia berada di tribun belakang bersama seorang anggota Polsek Tanah Luas dan menyaksikan aksi selebrasi yang dinilainya provokatif dari seorang pemain dengan nomor punggung 18. Saat kericuhan mulai pecah, Haiqal mengambil inisiatif untuk turun ke lapangan guna mendokumentasikan kejadian tersebut sebagai bagian dari tugas jurnalistiknya.

Kekeliruan Persepsi dan Tindakan Kekerasan

Sayangnya, keberadaannya di lapangan disalahpahami oleh sebagian pihak sebagai bentuk keberpihakan. Haiqal mengaku terlibat dalam aksi dorong dan segera dihampiri seseorang yang mencoba mengintimidasi. “Saat itu, saya menjelaskan posisi saya sebagai wartawan, namun situasi semakin memanas,” katanya.

Situasi semakin memburuk ketika seorang anggota TNI memitingnya dari belakang dan selanjutnya mengalami kekerasan. “Saya dipiting dan kemudian ada anggota lain yang melakukan penganiayaan. Alhamdulillah, ada anggota Polsek yang melindungi saya dan meminta agar tindakan tersebut dihentikan,” ujarnya. Haiqal kini mengalami nyeri pada bagian rusuk dan tengah menjalani observasi medis.

Tidak Ada Upaya Peleraian

Haiqal menegaskan bahwa tindakan yang dilakukan oleh anggota TNI bukanlah upaya untuk melerai kericuhan. “Tidak ada usaha peleraian dari TNI terhadap saya. Justru saya yang dipiting, sementara anggota Polseklah yang melindungi saya dari tindakan kekerasan itu,” tegasnya. Ia juga menolak klaim bahwa dirinya diamankan oleh personel Polsek Tanah Luas.

“Saya tidak diamankan. Saya sendiri yang berlari ke Polsek karena kendaraan saya biasanya diparkir di sana saat menonton pertandingan,” jelasnya. Haiqal pun mempertanyakan mengapa dia menjadi sasaran, padahal kericuhan sudah terjadi lebih dahulu.

Gestur Provokatif dan Hubungan yang Tidak Sehat

Ia mencatat bahwa anggota TNI yang terlibat, salah satunya Sertu Hendra, menunjukkan sikap menantang setelah dilerai oleh anggota Polsek. “Saya melihat matanya masih melotot dan gesturnya terlihat menantang,” ujarnya. Haiqal mengakui bahwa sebelumnya beberapa kali merasakan sikap sinis dari Sertu Hendra, meskipun ia tidak mengetahui penyebabnya.

Motif yang Mendasari Insiden

Sayuti Achmad menilai insiden ini perlu dilihat dalam konteks yang lebih luas, terutama terkait dengan aktivitas jurnalistik Haiqal. Ia dikenal sebagai wartawan yang kritis dan aktif meliput dugaan penggelapan dana kegiatan 17 Agustus di Kecamatan Tanah Luas. “Banyak pihak merasa terganggu dengan keberadaan Haiqal karena peliputannya yang tajam,” ungkap Sayuti.

“Oleh karena itu, kami melihat perlu adanya pemeriksaan yang serius terhadap kejadian ini. Jangan sampai kericuhan dijadikan sebagai kesempatan untuk menyerang wartawan,” tambahnya. Sayuti juga mencatat adanya kemungkinan masalah yang lebih besar daripada sekadar insiden spontan di lapangan.

Komunikasi Buruk Antara Koramil dan Wartawan

Ia berpendapat bahwa terdapat masalah komunikasi yang tidak sehat antara Koramil dan anggotanya di lapangan. “Kejadian ini harus diperiksa secara objektif. Jangan terburu-buru menyimpulkan bahwa tindakan itu semata-mata untuk melerai sebelum semua fakta diungkap,” tegasnya.

Sayuti juga meminta agar institusi TNI mengambil alih penanganan masalah ini dari level bawah untuk memastikan bahwa pemeriksaan berlangsung objektif dan tidak terkesan melindungi anggotanya. “Saya sudah dua dekade menjadi wartawan. Saya paham pola ketika sebuah institusi berusaha melindungi anggotanya. Proses klarifikasi jangan sampai berubah menjadi upaya membangun opini tandingan,” tambahnya.

PWI Siapkan Langkah Hukum

PWI Lhokseumawe berkomitmen untuk tidak tinggal diam dan akan mengambil langkah hukum terkait insiden ini. Saat ini, mereka menunggu kondisi kesehatan Haiqal yang masih menjalani observasi medis akibat nyeri pada bagian rusuk.

Setelah kondisi Haiqal dinyatakan membaik, PWI berencana melaporkan dua oknum anggota TNI yang terlibat ke Polisi Militer. “Kami sedang menunggu pemulihan Haiqal. Setelah itu, kami akan melanjutkan jalur hukum. Kami juga telah berkoordinasi dengan PWI Aceh dan Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA) yang siap memberikan dukungan agar kasus ini diproses secara hukum,” ungkap Sayuti.

Ia menegaskan bahwa masalah ini bukan hanya berkaitan dengan Haiqal sebagai individu, melainkan juga berkaitan dengan perlindungan terhadap profesi wartawan yang menjalankan tugas jurnalistik mereka. Insiden ini menjadi pengingat bahwa keamanan jurnalis saat melaksanakan tugas sangat penting dan harus dilindungi secara hukum.

Exit mobile version