Naqaa Hamed, Koresponden Press TV di Tepi Barat yang Diculik oleh Tentara Israel

Naqaa Hamed, seorang jurnalis Palestina-Amerika berusia 38 tahun, adalah sosok yang patut diperhatikan dalam dunia jurnalisme, terutama dalam konteks konflik di Tepi Barat. Sebagai seorang istri dan ibu dari tiga anak, Hamed telah membangun karier yang mengesankan selama lebih dari 15 tahun yang berfokus pada isu-isu Palestina. Latar belakang akademisnya di bidang media dan sosiologi, serta pemikiran Arab kontemporer dari Universitas Birzeit, membekalinya dengan pemahaman mendalam tentang kompleksitas yang ada di wilayah tersebut.
Awal Karier dan Pengalaman Profesional
Naqaa Hamed berasal dari desa Beitin, yang terletak di timur laut Ramallah, Tepi Barat yang dijajah. Sebelum bergabung dengan Press TV pada tahun 2024, ia telah mengumpulkan pengalaman luas di berbagai media lokal dan internasional. Dalam perjalanannya sebagai jurnalis independen, Hamed mengembangkan keterampilan dalam pelaporan, penyuntingan, dan produksi konten, yang sangat diperlukan untuk meliput krisis politik dan kemanusiaan yang kerap melanda kawasan ini.
Sejak bergabung dengan Press TV, Hamed telah memberikan liputan mendalam mengenai berbagai isu, terutama yang berkaitan dengan serangan militer Israel terhadap warga Palestina. Ia dikenal karena kemampuannya untuk menangkap kisah-kisah keberanian dan ketahanan masyarakat Palestina di tengah tantangan yang berat.
Peliputan di Tengah Krisis
Menjelang peluncuran Operasi Badai Al-Aqsa pada awal tahun 2024, Hamed mulai terlibat lebih aktif dalam peliputan peristiwa-peristiwa penting di Tepi Barat. Melalui laporan-laporannya, ia berhasil menarik perhatian global terhadap situasi yang dialami oleh warga Palestina di daerah yang terjajah.
- Peliputan serangan militer Israel.
- Kisah-kisah keberanian warga Palestina.
- Produksi film dokumenter tentang dampak kemanusiaan dari pendudukan.
- Gaya bercerita yang mencakup kedalaman emosional.
- Refleksi realitas kehidupan di Tepi Barat.
Selain menghasilkan laporan, Hamed juga berkontribusi dalam produksi film dokumenter yang menggambarkan dampak kemanusiaan dari pendudukan. Ia berusaha untuk memberikan suara kepada komunitas yang terpinggirkan, menjadikan kisah mereka lebih dikenal di panggung internasional.
Serangan Terhadap Jurnalis
Sayangnya, karier Hamed tidak lepas dari risiko. Bulan lalu, saat meliput serangan militer Israel di kamp pengungsi Qalandia, ia menjadi target serangan oleh pasukan pendudukan. Dalam insiden tersebut, Hamed terluka akibat tembakan gas air mata dan granat kejut yang diarahkan kepada jurnalis yang sedang meliput. Meskipun mengenakan tanda pengenal media yang jelas, Hamed tetap menjadi sasaran.
Insiden ini bukanlah yang pertama bagi Hamed. Sebelumnya, pada Desember 2025, ia mengalami luka-luka akibat peluru karet saat melaporkan langsung dari kamp Qalandia. Pengalaman ini menunjukkan betapa berbahayanya tugas jurnalis di wilayah yang dilanda konflik.
Kampanye Fitnah dan Serangan Siber
Sejak akhir Agustus 2026, Hamed juga menjadi sasaran kampanye fitnah yang intens di dunia maya. Salah satu akun media sosial, Mossad Commentary, mengklaim bahwa Hamed adalah “agen propaganda di halaman belakang Israel,” yang mencemarkan nama baiknya dan merusak reputasinya sebagai jurnalis independen. Hal ini memperlihatkan bagaimana jurnalis yang melaporkan kebenaran sering kali menjadi target serangan yang tidak hanya fisik, tetapi juga psikologis.
Kampanye ini tidak hanya berasal dari satu akun, tetapi juga dari beberapa akun lain yang berafiliasi dengan rezim Israel. Mereka memperkuat narasi negatif tentang Hamed dengan menggunakan bahasa yang serupa dan berfokus pada aktivitas peliputannya di wilayah yang berada di bawah kendali Israel.
Penculikan dan Penahanan
Pada tanggal 14 September, situasi Hamed semakin memburuk ketika ia diculik oleh pasukan Israel. Dalam aksi yang dapat dianggap sebagai teror, pasukan tersebut menyerbu pos pemeriksaan dekat kota Tuqu’ di Betlehem dan menculik Hamed saat ia sedang bepergian dengan kru kamera. Rekan-rekannya dibebaskan, tetapi Hamed dipindahkan ke lokasi yang dirahasiakan tanpa ada informasi lebih lanjut yang diberikan kepada keluarganya.
Setelah penangkapannya, Hamed diketahui telah menghabiskan malam di pusat penahanan Israel. Menurut laporan dari teman dan keluarganya, seorang pengacara yang berhasil berbicara dengannya melalui telepon mengungkapkan bahwa Hamed sedang diinterogasi secara intens terkait aktivitas jurnalistiknya. Hal ini menunjukkan betapa seriusnya situasi yang dihadapi oleh jurnalis di wilayah konflik ini.
Penyelidikan dan Respons Keluarga
Hamed, yang juga berkontribusi pada beberapa media internasional lainnya, ditahan ketika kembali dari Tepi Barat selatan, setelah melaporkan tentang serangan pemukim Israel di daerah Masafer Yatta. Dalam situasi tersebut, ia bersama dua jurnalis Palestina lainnya yang meliput untuk jaringan berita TRT Turki.
Rekan kerjanya, Wissam Karam, yang juga berada di dalam kendaraan saat penculikan, menceritakan pengalaman menegangkan ketika tentara Israel menghentikan mereka dan meminta kartu identitas serta mengambil foto. Ia menjelaskan bahwa mereka dipaksa untuk duduk di tanah selama sekitar 45 menit, sementara Hamed dibawa pergi untuk diinterogasi.
Setelah beberapa waktu, Hamed kembali kepada rekan-rekannya dan mengungkapkan bahwa ia telah ditanyai tentang pekerjaannya serta subjek yang telah diliputnya. Tak lama kemudian, pasukan Israel meminta Hamed untuk menyerahkan perangkat elektroniknya dan membawanya ke fasilitas penahanan.
Reaksi dari Keluarga dan Dukungan Internasional
Setelah penangkapannya, keluarga Hamed berusaha untuk mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai keberadaannya. Mereka telah menghubungi Kedutaan Besar AS di Al-Quds untuk meminta bantuan, namun hingga saat ini belum ada tanggapan. Hamed memiliki kewarganegaraan ganda Palestina dan Amerika, yang seharusnya memberikan perlindungan tambahan dalam situasi ini.
Media Israel melaporkan bahwa Hamed “diduga bekerja sama dengan entitas musuh” dan mungkin juga terlibat dalam kegiatan spionase. Namun, ketika ditanya mengenai kasus ini, juru bicara militer Israel menolak memberikan komentar. Ini menunjukkan ketidakpastian dan ketegangan yang mengelilingi situasi Hamed.
Stigma Media dan Isu Kemanusiaan
Dalam laporan-laporan yang muncul, terdapat upaya dari beberapa media untuk memperbesar isu dugaan spionase Hamed tanpa memberikan bukti yang jelas. Ini menunjukkan bagaimana jurnalis yang berani melaporkan kebenaran sering kali harus menghadapi stigma dan serangan yang dapat merusak reputasi mereka.
Saat ini, Naqaa Hamed masih berada di bawah tahanan Israel tanpa ada dakwaan resmi yang diberikan. Situasinya mencerminkan tantangan yang dihadapi oleh jurnalis di wilayah konflik, di mana kebebasan berekspresi dan hak untuk melaporkan fakta sering kali diabaikan demi kepentingan politik tertentu.