Mualem Perintahkan Distanbun Tingkatkan Penanganan Petani Terdampak Bencana dengan Sumber Daya Maksimal

Bencana hidrometeorologi yang melanda Aceh telah memberikan dampak signifikan terhadap sektor pertanian, khususnya bagi para petani. Dalam situasi yang genting ini, Gubernur Aceh, Muzakir Manaf, atau yang akrab disapa Mualem, mengambil langkah proaktif untuk meningkatkan penanganan petani yang terdampak. Ia memerintahkan Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Aceh, Dr. Azanuddin Kurnia, agar memanfaatkan semua sumber daya yang ada demi memulihkan kondisi petani yang terpuruk akibat bencana ini.
Pengarahan Gubernur untuk Memperkuat Penanganan
Mualem menekankan pentingnya kolaborasi antara berbagai pihak, termasuk dinas kabupaten/kota, TNI, dan kelompok tani, untuk mempercepat penanganan masalah yang dihadapi para petani. Melalui Juru Bicara Pemerintah Aceh, Nurlis Effendi, Gubernur menyatakan, “Kerahkan semua sumber daya yang ada, bangun kolaborasi dengan para pihak.” Ini menunjukkan komitmen Pemerintah Aceh dalam mengatasi masalah yang mendesak ini.
Gubernur juga meminta agar komunikasi dan hubungan yang baik dengan Kementerian Pertanian diperkuat. Hal ini penting agar semua kegiatan yang difasilitasi oleh Kementerian dapat berjalan dengan lancar dan efektif. Pada pertemuan yang berlangsung di ruang kerja Gubernur di Banda Aceh, Mualem menerima laporan langsung dari Azanuddin mengenai perkembangan terkini di sektor pertanian dan perkebunan Aceh.
Target dan Harapan Gubernur
Dalam laporan tersebut, Gubernur Mualem menyampaikan harapannya agar semua program yang didukung oleh Kementerian Pertanian untuk tahun 2026 dapat diselesaikan tepat waktu. Ia juga mengimbau kelompok tani serta TNI untuk melaksanakan kegiatan ini sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Ini adalah langkah penting untuk memastikan bahwa bantuan yang diberikan benar-benar bermanfaat bagi para petani yang terdampak.
Salah satu masalah yang dihadapi adalah kerusakan lahan pertanian yang mencapai 16.276 hektare. Gubernur meminta agar semua rencana yang telah disusun oleh Distanbun Aceh untuk penanganan lahan tersebut segera dilaksanakan. Dalam upaya mempercepat proses, Mualem mengarahkan Plt. Kadistanbun untuk mengirimkan surat kepada Menteri Pertanian dan Menteri ATR/BPN untuk mempercepat proses administrasi yang diperlukan.
Strategi Penanganan Lahan Pertanian
Gubernur juga meminta agar Kementerian Pertanian melakukan kajian cepat mengenai biaya per hektar, sehingga pelaksanaan survei dan investigasi dapat dilakukan dengan lebih efisien. Selain itu, ia juga meminta bantuan dari Kementerian ATR/BPN untuk melakukan identifikasi dan pemetaan batas lahan, mengingat kondisi batas lahan sawah yang rusak berat sudah sulit dikenali. Ini adalah langkah penting untuk memastikan bahwa semua lahan yang terdampak dapat ditangani dengan tepat.
Dari penjelasan yang diberikan oleh Plt. Kadistanbun, Mualem melihat upaya yang dilakukan sebagai langkah maju untuk mempercepat penanganan sawah yang mengalami kerusakan parah. Ia berharap agar semua bantuan dari Kementerian Pertanian, termasuk alat mesin pertanian, dapat dimanfaatkan secara optimal untuk mendukung program ketahanan pangan dan swasembada pangan di Aceh.
Pentingnya Pemanfaatan Alat dan Bahan Pertanian
Gubernur Mualem berpesan agar alat-alat pertanian yang diberikan oleh Kementerian tidak hanya menjadi pajangan. Ia mengingatkan pentingnya pemanfaatan alat tersebut untuk mendukung seluruh kegiatan para petani. “Kelola dengan baik,” tegas Mualem, menunjukkan komitmennya terhadap pemulihan sektor pertanian di Aceh.
Selain itu, Gubernur juga mengingatkan pentingnya semua benih dan bibit bantuan, baik itu dari padi, jagung, kopi, kakao, kelapa, hingga karet, untuk dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. “Manfaatkan sebaik mungkin agar kita bisa kembali seperti sediakala bahkan kalau bisa lebih baik dari sebelumnya,” imbuhnya. Hal ini menunjukkan harapan besar terhadap pemulihan Aceh pasca-bencana.
Progres Pemulihan Sektor Pertanian
Azanuddin, yang sebelumnya melaporkan perkembangan pemulihan sektor pertanian, menyampaikan bahwa hingga 1 September 2026, serapan anggaran untuk penanganan bencana sudah mencapai sekitar 53%. Ia optimis bahwa sekitar 40.852 hektare sawah yang rusak ringan dan sedang akan selesai ditangani, termasuk semua kegiatan pendukung yang terkait.
Dia juga menekankan pentingnya pengawasan dari dinas kabupaten/kota untuk memastikan bahwa semua pekerjaan di lapangan berjalan sesuai dengan rencana. Terkait pekerjaan yang langsung ditangani oleh Kementerian Pertanian, Azan meminta agar dinas di kabupaten/kota yang belum menyelesaikan CPCL dapat mempercepat proses sambil tetap memenuhi semua kriteria yang ditetapkan oleh peraturan yang berlaku.
Strategi Pemulihan Lahan Pertanian yang Rusak
Pada kesempatan sebelumnya, Azanuddin juga memberikan masukan terkait strategi pemulihan sawah yang rusak berat. Ia mengusulkan beberapa langkah, antara lain:
- Memanfaatkan lumpur di sawah sebagai bahan galian C untuk proyek pemerintah.
- Menanam tanaman muda yang sesuai dengan kondisi lahan.
- Menjadikan material yang ada sebagai bahan baku untuk bata ringan atau bata merah.
- Melakukan rehabilitasi sawah yang rusak berat agar kembali ke kondisi semula.
- Melakukan pemantauan dan evaluasi secara berkala untuk memastikan efektivitas program pemulihan.
Langkah-langkah ini diharapkan dapat membantu mempercepat pemulihan lahan pertanian yang terdampak bencana, sehingga para petani dapat kembali beraktivitas dengan normal. Dengan adanya sinergi antara pemerintah, petani, dan pihak terkait lainnya, diharapkan Aceh dapat bangkit kembali dan mencapai ketahanan pangan yang lebih baik di masa depan.



